Setelah melalui ujian yang mengguncang, Raka, Dewi Larasati, dan Bulan Tara melangkah lebih dalam ke dalam Tanah Leluhur. Gua di belakang mereka kini terasa begitu jauh, seolah menyisakan kehampaan yang besar di dalam hati mereka. Walaupun mereka berhasil mengalahkan ujian penjaga, perasaan tidak pasti dan cemas tetap menghantui setiap langkah mereka. Terlebih setelah penjaga itu memperingatkan mereka tentang pengorbanan yang lebih besar yang harus mereka hadapi.
Tanah Leluhur kini semakin terasa hidup dengan energi yang kuat. Udara di sekitar mereka terasa lebih tebal, dan tanah yang mereka injak memancarkan getaran yang penuh dengan kekuatan purba. Setiap langkah yang mereka ambil seolah mempengaruhi keseimbangan alam semesta.
"Ini lebih dari sekadar tanah," Dewi Larasati berbisik, suaranya hampir tenggelam dalam keheningan yang menyesakkan. "Pohon Amerta... Pohon Kalabendu... mereka lebih dari sekadar pohon. Mereka adalah inti dari seluruh kehidupan di sini."
Raka mengangguk. "Kita harus berhati-hati. Setiap pilihan yang kita buat akan mempengaruhi dunia ini."
Bulan Tara, yang biasanya tenang dan penuh keyakinan, kini tampak sedikit lebih gelisah. "Ada sesuatu di sini. Sesuatu yang lebih besar dari yang kita duga. Kita harus menemukan Pohon Amerta secepatnya."
Mereka berjalan lebih jauh, menuju pusat Tanah Leluhur. Di sepanjang perjalanan, semakin sedikit jejak kehidupan yang mereka temui. Tanah yang semula subur kini tampak kering, dengan pepohonan yang layu dan udara yang semakin panas. Namun, di kejauhan, mereka melihat sebuah cahaya yang memancar, begitu terang, namun penuh misteri.
Raka merasa sesuatu yang tak terjelaskan menariknya ke arah cahaya itu. Sesuatu dalam dirinya—suatu kekuatan—memanggilnya untuk mendekat, seperti aliran energi yang tidak bisa ia hindari. "Itulah tujuan kita," katanya, suaranya tegas meski ada keraguan yang membayang.
Dewi Larasati memandang Raka dengan penuh perhatian. "Kau merasa itu juga, bukan? Kekuatan itu—panggilan dari Pohon Amerta. Tapi kita tidak tahu apa yang akan kita hadapi di sana."
Mereka terus melangkah, dan semakin dekat dengan cahaya itu, semakin kuat perasaan Raka bahwa mereka sedang menuju titik tak terhindarkan. Ketika mereka akhirnya mencapai area yang terang itu, mereka mendapati sebuah pohon besar yang berdiri tegak di tengah-tengah sebuah lapangan luas. Pohon itu memancarkan cahaya yang hangat, namun juga terasa berbahaya, seperti sesuatu yang sangat berkuasa namun rentan.
Pohon itu berbeda dari yang mereka bayangkan. Batangnya berwarna perak bercampur emas, berkilauan seperti matahari terbenam yang memantul di atas permukaan laut. Daunnya berkilauan dengan warna-warna yang sulit dijelaskan—seperti pelangi yang terjebak di antara alam nyata dan dunia roh. Pohon itu tampak hidup, dengan setiap cabang bergerak seolah mengikuti irama yang hanya bisa dipahami oleh alam itu sendiri.
Di sekitar pohon, sebuah aura ketenangan memancar, namun juga ketegangan. Raka merasa ketakutan dan harapan bercampur aduk dalam dirinya. Ini adalah pohon yang menghubungkan hidup dan mati, yang memberi kehidupan namun juga bisa menghancurkannya.
"Ini adalah Pohon Amerta," kata Bulan Tara dengan suara rendah. "Tapi... kenapa aku merasa ada sesuatu yang salah?"
Dewi Larasati menatap pohon itu, matanya terpejam sejenak, mencoba merasakan kekuatan yang ada. "Ada sesuatu yang tersembunyi. Pohon ini tidak hanya memberi kehidupan—ia juga menguji jiwa yang datang padanya."
Tiba-tiba, dari bawah tanah, sebuah suara berderak keras. Rangkaian akar besar yang sebelumnya tersembunyi mulai terangkat, dan dari tanah muncul sebuah sosok tinggi yang menjulang—sebuah makhluk yang tampak seperti gabungan manusia dan roh. Wajahnya buram dan kabur, namun mata yang bersinar merah menatap mereka dengan intensitas yang menakutkan.
"Jangan terlalu terburu-buru," kata makhluk itu dengan suara yang berat dan bergema. "Pohon Amerta bukan hadiah gratis. Ia hanya akan memberi kehidupan kepada mereka yang bersedia mengorbankan segalanya untuk menjaga keseimbangan alam."
Makhluk itu melangkah maju, mendekati mereka dengan perlahan. "Aku adalah penjaga Pohon Amerta, dan ujian kalian belum berakhir. Kalian telah melewati ujian pertama, tapi hanya dengan pengorbanan sejati kalian akan mampu mengendalikan kekuatan Pohon Amerta."
Raka merasa darahnya membeku. "Apa maksudmu dengan pengorbanan sejati?"
Makhluk itu tersenyum samar. "Kekuatan pohon ini sangat besar, tetapi ia tidak bisa dipisahkan dari harga yang harus dibayar. Kalian harus siap untuk kehilangan sesuatu yang sangat berharga bagi kalian. Pohon ini tidak memberikan kekuatan tanpa alasan."
Dewi Larasati menggigit bibirnya. "Apa yang harus kami lakukan? Kami tidak akan membiarkan Tanah Leluhur hancur."
"Jika kalian ingin menyelamatkan Tanah Leluhur," makhluk itu menjawab, "kalian harus memilih. Kekuatan atau keseimbangan. Satu akan datang dengan harga yang harus dibayar, dan satu akan membawa kehancuran. Pilihlah dengan bijak."
Raka merasa matanya mulai berair. Suasana yang dipenuhi ketegangan itu semakin pekat. Apakah mereka akan memilih kekuatan yang bisa menghancurkan segala sesuatu demi menyelamatkan tanah ini, atau akankah mereka memilih keseimbangan, yang akan membutuhkan pengorbanan lebih dari yang mereka bayangkan?
Pohon Amerta berdiri tegak di depan mereka, cahayanya mengundang, namun juga penuh peringatan. Sekarang, mereka harus memilih—pilihan yang akan mengubah segalanya.
23.16
Royhasanuddin
0 komentar:
Posting Komentar