Waktu seolah berhenti saat makhluk penjaga itu berdiri di depan mereka, matanya yang merah menyala menembus kedalaman jiwa Raka, Dewi Larasati, dan Bulan Tara. Mereka semua terdiam, seakan tak mampu menggerakkan tubuh mereka. Kekuatan Pohon Amerta seakan merasuk ke dalam setiap sel tubuh mereka, membangkitkan rasa takut dan harapan yang bercampur aduk.
“Apa yang kalian pilih?” suara penjaga itu kembali bergema, kali ini dengan kekuatan yang membuat tanah di sekitar mereka bergetar. “Pohon ini akan memberikan kekuatan luar biasa kepada siapa pun yang mampu menguasainya. Namun, kekuatan itu datang dengan beban yang tidak bisa ditanggung oleh sembarang jiwa.”
Raka menatap pohon itu, matanya terpejam sejenak mencoba merasakan energi yang terpancar dari batang pohon yang memancarkan cahaya. Di dalam dadanya, ia bisa merasakan detak jantungnya yang semakin cepat, ketegangan yang semakin menekan. Perasaan kuat bahwa sesuatu yang besar akan segera terjadi, sesuatu yang akan mengubah hidupnya selamanya.
“Jika kita mengambil kekuatan itu,” kata Raka, suara seraknya hampir hilang tertelan angin, “apakah itu berarti kita harus mengorbankan sesuatu yang kita cintai?”
Makhluk itu mengangguk perlahan. "Kekuatan itu tidak dapat diberikan tanpa harga. Setiap jiwa yang ingin menguasainya harus mengorbankan sesuatu yang sangat berharga bagi dirinya. Tanpa pengorbanan itu, kekuatan Pohon Amerta akan membawa kehancuran, bukan kehidupan."
Dewi Larasati menggigit bibir bawahnya, wajahnya menunjukkan keraguan yang mendalam. "Apa yang harus kita pilih, Raka? Apakah kita akan menggunakan kekuatan itu untuk melawan Karna Wiratama? Atau apakah kita memilih jalan yang lebih sulit, menjaga keseimbangan?"
Bulan Tara menatap Dewi Larasati dan Raka, sorot matanya penuh tekad. “Saya rasa kita semua tahu jawabannya. Kekuatan itu terlalu berbahaya, kita tak tahu apa akibatnya. Kalau kita memilih jalan ini, kita harus siap untuk pengorbanan itu.”
Tiba-tiba, suara di belakang mereka memecah keheningan, datangnya dari arah yang jauh, membawa energi yang familiar. Raka menoleh dan melihat sosok Karna Wiratama, yang muncul dengan senyum dingin di wajahnya, seperti burung pemangsa yang siap menerkam.
"Jadi, kalian akhirnya sampai juga," kata Karna, matanya menyipit menatap mereka. "Aku tahu kalian akan datang ke sini, mencari Pohon Amerta. Tapi kalian tidak tahu apa yang kalian hadapi."
Raka mendengus, melangkah maju, dengan mata penuh tekad. "Kami tahu apa yang kami hadapi, Karna. Kami akan berhenti kamu. Tanah Leluhur ini akan diselamatkan."
Karna tertawa pelan, suaranya seakan bergema di seluruh tanah tersebut. "Pohon Kalabendu sudah memberi aku kekuatan yang tidak kalian bayangkan. Kini aku tahu apa yang harus aku lakukan. Kekuatan yang ada pada Pohon Amerta jauh lebih besar, tetapi aku tidak peduli akan harga yang harus dibayar. Aku akan menguasainya, dan Tanah Leluhur ini akan tunduk di bawah kekuasaanku."
Raka bisa merasakan energi gelap yang mengelilingi Karna, semakin kuat dengan setiap kata yang terucap. “Karna, berhenti! Kamu tidak tahu apa yang kamu lakukan. Pohon ini adalah keseimbangan hidup dan mati, bukan alat untuk kepentingan pribadi!”
Karna menyeringai, pandangannya semakin tajam. "Jangan bodoh, Raka. Kekuatan ini akan mengubah segalanya. Kita akan memulai babak baru di dunia ini, satu di mana tidak ada lagi yang menghalangi jalanku."
Dewi Larasati maju ke depan, berdiri di samping Raka, tangannya terulur untuk menenangkan situasi. "Karna, kamu harus sadar. Kekuatan ini akan menghancurkanmu jika kamu tidak memahami harga yang harus dibayar."
Karna hanya mengabaikan kata-kata Dewi Larasati, dan tanpa peringatan, dia mengangkat tangan ke arah Pohon Amerta. Cahaya yang memancar dari pohon itu berdenyut lebih kuat, seolah merespon panggilan Karna. Di sekeliling mereka, udara menjadi semakin panas, dan tanah mulai bergetar hebat.
Raka merasakan dorongan kuat yang menarik dirinya dan Dewi Larasati. Suasana semakin gelap, dan dalam sekejap, mereka berada dalam pusaran energi yang tak terhindarkan. Raka bisa merasakan pertarungan yang akan datang—pertarungan yang akan menentukan nasib Tanah Leluhur dan hidup mereka.
“Jika kita tak segera bertindak,” kata Raka dengan suara tegas, “kekuatan ini akan menjadi kehancuran. Kita harus menghentikan Karna sebelum terlambat.”
Dewi Larasati menatap Raka, matanya penuh dengan keyakinan yang kembali muncul. “Kita tidak bisa membiarkan Karna mengendalikan Pohon Amerta. Kita harus memilih, Raka. Kita harus siap mengorbankan sesuatu yang berharga, demi menyelamatkan yang lebih besar.”
Raka menatap pohon itu sekali lagi, cahaya yang memancar begitu terang, memantulkan keputusan yang harus diambil. Ia merasakan ketegangan yang hampir tak tertahankan, di dalam dirinya, di dalam Tanah Leluhur ini. Ia menyadari satu hal: Pohon Amerta bukan hanya tentang kekuatan. Ini adalah tentang memilih jalan yang benar, walaupun jalan itu penuh pengorbanan.
"Sekarang adalah waktu kita memilih," kata Raka dengan suara penuh tekad. "Jalan ini bukan hanya tentang kita. Ini tentang keseimbangan yang lebih besar, tentang Tanah Leluhur dan semua yang bergantung padanya. Kita akan menghadapinya bersama."
Dan begitu mereka memutuskan untuk berjuang, dengan kekuatan yang ada di dalam diri mereka dan dengan pengorbanan yang siap mereka bayar, mereka tahu bahwa tidak ada yang bisa menghentikan mereka. Namun, harga yang harus mereka bayar—apakah mereka siap untuk itu?
23.17
Royhasanuddin
0 komentar:
Posting Komentar