Keheningan kembali menyelimuti jalan setapak yang mereka lalui. Setelah mengalahkan makhluk penjaga, Raka, Dewi Larasati, dan Bulan Tara melanjutkan perjalanan mereka dengan lebih hati-hati. Tanah Leluhur kini terasa semakin berbahaya—tanpa makhluk penjaga yang tampaknya lebih sering muncul, namun rasa tertekan oleh keberadaan tak kasat mata semakin menguat.
Bulan Tara memimpin mereka, langkahnya mantap meskipun aura kecemasan yang tak bisa disembunyikan menghantui pandangannya. "Kami semakin dekat," katanya, "Namun, semakin dekat kita, semakin kuat hambatan yang akan kita hadapi."
Raka merasakan sesuatu yang ganjil dalam hatinya. Sesuatu yang semakin mengganggu, terasa seperti bisikan yang datang dari dalam Pohon Kalabendu. "Apa yang akan kita temui di pusat Tanah Leluhur?" tanyanya pada Bulan Tara.
Bulan Tara berhenti sejenak, memandang Raka dengan sorot mata yang penuh arti. "Pusat Tanah Leluhur adalah tempat yang sangat sakral. Hanya mereka yang benar-benar layak yang dapat memasukinya. Yang lain, mereka akan tergoda oleh kekuatan gelap yang bisa mengubah nasib mereka—termasuk kamu, Raka."
Dewi Larasati mendekat, tatapannya penuh perhatian. "Raka, kita harus berhati-hati. Pohon Kalabendu mungkin menawarkan kekuatan, tetapi itu juga bisa menghisap jiwamu. Kita harus berusaha mengendalikan dorongan itu."
Raka mengangguk pelan. Memang, semakin lama ia merasakan kekuatan Pohon Kalabendu semakin mendalam dalam dirinya. Suatu dorongan untuk menguasai, untuk mengubah segalanya sesuai kehendaknya sendiri. Ia tahu, ia harus menjaga kewarasannya—tetapi kadang, rasa ingin tahu dan ambisi bisa begitu menggoda.
Perjalanan mereka terus berlanjut, namun semakin lama, jalan setapak semakin curam, tanahnya terasa semakin rapuh di bawah kaki mereka. Kabut tebal kembali datang, dan suara angin yang melolong mulai terdengar, seperti suara bisikan yang datang dari jauh. Tiba-tiba, Raka terhenti di tempatnya, matanya menatap ke depan dengan penuh ketegangan.
"Ada sesuatu yang salah," kata Raka, suaranya serak.
Dewi Larasati juga merasakan perubahan itu. "Kami tidak sendirian lagi," jawabnya, matanya menyapu sekeliling.
Tiba-tiba, dari dalam kabut yang tebal, muncul sosok misterius. Seorang pria berjubah hitam, wajahnya tertutup oleh topeng yang menyeramkan. Ia berdiri di tengah jalan, seolah menunggu kedatangan mereka. Suaranya menggema di udara. "Mencari Pohon Amerta? Itu bukanlah jalan yang mudah."
Bulan Tara segera mengangkat tangan, siap melawan, tetapi pria itu hanya tersenyum, matanya bersinar dengan cahaya merah. "Kalian mungkin bisa mengalahkan makhluk penjaga tadi, tapi tidak dengan saya."
Dengan gerakan yang hampir tak terlihat, pria itu mengangkat tangannya. Seperti angin yang berputar, tanah di sekitar mereka mulai bergetar, membentuk dinding yang menghalangi jalan mereka. Angin berhembus kencang, membuat mereka sulit untuk bergerak.
"Siapa kau?" Dewi Larasati bertanya dengan hati-hati, menahan dirinya agar tidak terbawa emosi.
"Saya adalah penjaga yang lebih tua dari Tanah Leluhur," jawab pria itu. "Pohon Kalabendu dan Pohon Amerta bukan sekadar pohon. Mereka adalah perwujudan dari dua kekuatan primordial. Tanah Leluhur bukan hanya tempat, tetapi juga hidup, mengandung rahasia yang tidak bisa dipahami oleh sembarang orang."
Raka merasa gelombang energi yang kuat mengelilinginya. Suatu dorongan gelap datang dari dalam dirinya, suara Pohon Kalabendu yang terdengar seperti nyanyian yang menuntutnya untuk bertindak, untuk mengambil kendali lebih besar. "Apa yang sebenarnya kau inginkan?" tanya Raka, suaranya bergetar.
Pria itu menatapnya tajam. "Saya bukanlah musuh kalian, tetapi ujian yang harus kalian lewati. Hanya dengan melawan godaan kekuatan gelap, kalian akan menemukan jalan yang benar."
Tiba-tiba, pria itu menghilang dalam kabut, meninggalkan mereka dengan rasa kebingungan yang mendalam. Tanah Leluhur semakin terasa semakin menekan, seolah membebani mereka dengan rahasia dan bahaya yang belum terungkap.
Dewi Larasati menghela napas panjang. "Itu bukan hanya ujian fisik. Ini adalah ujian hati. Jika kita tidak hati-hati, kita bisa terjatuh ke dalam kekuatan gelap yang akan menghancurkan kita."
Bulan Tara mengangguk, wajahnya serius. "Pohon Kalabendu bukan hanya pohon. Itu adalah bagian dari diri kita. Setiap dorongan yang kita rasakan, setiap godaan yang datang, adalah ujian. Kalian harus menemukan keseimbangan, atau semuanya akan berakhir."
Raka menggenggam erat pedangnya. "Aku akan menghadapinya. Aku akan mengalahkan Karna Wiratama dan menyelamatkan Tanah Leluhur."
Namun, di dalam dirinya, perasaan yang tak terungkapkan semakin kuat. Apakah ia benar-benar mampu menahan godaan kekuatan gelap itu? Semakin ia mendekati pusat Tanah Leluhur, semakin kuat dorongan itu, dan semakin besar risiko yang ia hadapi.
"Langkah kita semakin dekat," kata Dewi Larasati, matanya tajam. "Tetapi kita harus lebih hati-hati dari sebelumnya."
Ketiganya melanjutkan perjalanan mereka, kini lebih waspada dari sebelumnya. Di setiap langkah, Tanah Leluhur tampaknya semakin memperlakukan mereka sebagai bagian dari teka-teki yang belum terpecahkan. Kekuatan gelap dari Pohon Kalabendu mengintai di setiap sudut, dan perjalanan mereka ke pusat Tanah Leluhur semakin penuh dengan pertanyaan yang belum terjawab—dan ancaman yang semakin nyata.
23.09
Royhasanuddin
0 komentar:
Posting Komentar