Raka merasakan angin dingin menyapu wajahnya saat ia berjalan melalui hutan yang semakin lebat. Pohon-pohon besar yang menjulang tinggi di sekitar mereka seperti menghalangi cahaya matahari, menciptakan bayangan gelap yang menambah rasa cemas di dadanya. Tanah Leluhur, yang penuh dengan misteri dan mitos, terasa semakin mencekam. Meskipun ia tahu ini adalah perjalanan yang tak terhindarkan, entah mengapa, langkahnya terasa semakin berat.
Dewi Larasati, yang berjalan di sampingnya, menoleh ke arahnya dengan tatapan serius. "Kita semakin dekat dengan pusat Tanah Leluhur," katanya, suara lembutnya terasa lebih berat daripada biasanya. "Pohon Kalabendu ada di sana, tapi kita tidak tahu apa yang akan kita temui."
Raka menatapnya, merasakan ketegangan yang mulai mengikat mereka. "Kita harus menemukan cara untuk menghentikan kekuatan gelap yang menguasainya. Tapi..." Ia terdiam sejenak, merasa ragu. "Apa yang terjadi jika kita gagal?"
Dewi Larasati menghela napas, matanya berkilat dengan kekuatan yang dalam. "Kita tidak bisa gagal, Raka. Jika Pohon Kalabendu terus tumbuh, Tanah Leluhur akan jatuh dalam kegelapan yang tak terbendung. Tetapi kita juga harus berhati-hati, karena ada harga yang harus dibayar."
Raka tahu bahwa kata-kata Dewi Larasati mengandung lebih dari sekadar peringatan. Ada sesuatu dalam dirinya yang merasa tidak nyaman. Sesuatu yang lebih besar dari sekadar tugas mereka untuk menyelamatkan Tanah Leluhur. Sesuatu yang melibatkan dirinya lebih dalam dari yang ia sadari.
Bulan Tara, yang berjalan di belakang mereka, tiba-tiba menghentikan langkahnya. Wajahnya yang penuh misteri menyiratkan kehadiran sesuatu yang tak tampak. "Ada yang salah," katanya, suara lembutnya penuh kewaspadaan. "Ada makhluk yang mengawasi kita."
Raka mendekat, menatap Bulan Tara dengan penuh tanya. "Apa maksudmu?"
Bulan Tara mengangguk pelan, jari-jari halusnya meraba udara sekeliling. "Tanah Leluhur bukanlah tempat yang ramah bagi mereka yang tidak memiliki izin. Makhluk-makhluk mistis akan menguji kita, menghalangi perjalanan kita."
Saat itu, dari dalam hutan yang gelap, terdengar suara gemerisik langkah kaki makhluk besar yang datang mendekat. Dengan cepat, sebuah sosok muncul dari balik semak-semak. Sebuah makhluk berbadan besar dengan kulit bersisik dan mata merah menyala, berdiri di hadapan mereka, menantang mereka dengan tatapan tajam.
"Makhluk penjaga," bisik Dewi Larasati. "Hanya mereka yang ditugaskan oleh Pohon Kalabendu yang dapat menghalangi perjalanan kita."
Raka merasakan ketegangan menekan dirinya, namun ada sesuatu dalam dirinya yang tidak bisa diabaikan. Sebuah kekuatan yang aneh. Tanpa disadari, tangannya bergerak ke arah pedangnya, dan rasa gelap yang tiba-tiba muncul mengalir melalui tubuhnya.
"Tunggu, Raka," seru Dewi Larasati dengan cepat. "Jangan gunakan kekuatan itu. Itu akan menarik perhatian yang lebih besar dari kita."
Namun, Raka sudah terlambat. Tanpa bisa dihentikan, pedangnya mulai berkilauan dengan cahaya gelap yang samar, menyatu dengan energi dari Pohon Kalabendu. Makhluk penjaga itu merintih, mengangkat kedua tangan raksasanya, dan menyerang mereka dengan kekuatan luar biasa.
Bulan Tara bergerak cepat, melontarkan energi spiritualnya yang kuat, menciptakan perisai pelindung yang melindungi mereka dari serangan makhluk tersebut. "Kita harus segera bergerak!" teriaknya.
Raka dan Dewi Larasati tidak punya waktu untuk berpikir lebih jauh. Mereka berlari mengikuti Bulan Tara, meninggalkan makhluk itu yang kini terdiam sejenak, terhalang oleh perisai. Namun, Raka tahu bahwa ini hanya awal dari perjalanan mereka yang jauh lebih berbahaya.
Mereka terus melangkah, menembus kabut yang semakin pekat. Setiap langkah semakin membawa mereka lebih dekat ke pusat Tanah Leluhur, namun juga semakin dalam ke dalam misteri yang tak terungkap. Raka merasa ada sesuatu yang mengintai mereka, sesuatu yang lebih gelap dari apa pun yang bisa mereka bayangkan.
Di tengah perjalanan, Raka mendapati sebuah petunjuk yang membuat hatinya berdebar. Di sebuah batu besar yang tertutup lumut, terdapat ukiran yang tidak asing baginya. Itu adalah simbol yang pernah ia lihat dalam mimpinya—sebuah pohon dengan akar yang menyatu dengan bumi, daunnya berbentuk seperti lidah api. Raka tertegun sejenak. Kenapa simbol ini begitu familiar?
"Raka?" Dewi Larasati menyadari ketegangan di wajahnya. "Ada apa?"
Ia menatap simbol itu sekali lagi, dan kemudian mengingat sesuatu yang telah lama terkubur dalam ingatannya—sebuah legenda yang ia dengar waktu kecil. Legenda tentang Pohon Kalabendu yang dikatakan memiliki hubungan dengan masa lalunya, dengan kekuatan gelap yang dapat mengendalikan takdir siapa pun yang berani mendekatinya. Tetapi, legenda itu juga mengisyaratkan bahwa pohon itu memiliki kaitan dengan dirinya.
"Ini... ini milikku," katanya pelan, matanya penuh dengan kebingungannya sendiri.
Dewi Larasati terdiam. "Apa maksudmu?"
Raka menatap simbol itu, dan tiba-tiba, segalanya terasa jelas. Pohon Kalabendu tidak hanya memiliki kekuatan gelap yang bisa menghancurkan Tanah Leluhur—tetapi juga mengandung kunci untuk memahami siapa dirinya sebenarnya. Dalam hatinya, ia mulai merasakan sebuah takdir yang tidak bisa ia hindari.
Namun, sebelum ia bisa mengatakan lebih lanjut, Bulan Tara yang berada di depan mereka berbalik dengan cepat. "Kita harus pergi. Sekarang."
Mereka melanjutkan perjalanan mereka, namun kali ini, Raka merasakan sebuah ketegangan yang berbeda. Ada kekuatan yang mengalir dalam dirinya, lebih gelap dan lebih kuat dari sebelumnya. Dan dengan setiap langkah menuju pusat Tanah Leluhur, ia tahu bahwa ia tidak hanya berjuang untuk menyelamatkan dunia ini—tetapi juga untuk menghadapi dirinya sendiri.
Di kejauhan, di dalam kegelapan, Karna Wiratama mengamati mereka dengan senyum dingin. "Mereka tidak tahu apa yang menunggu mereka."
23.04
Royhasanuddin
0 komentar:
Posting Komentar