“Hanya teman.”
Kata-kata itu meluncur dari bibirnya, seperti desahan angin malam. Lembut, namun cukup dingin untuk menusuk tulang.
Aku hanya diam. Mataku mencari jawab di wajahnya—sebuah isyarat, sebuah retakan kecil dalam senyum manisnya. Tapi tidak ada. Yang kudapati hanyalah keheningan yang menggantung di antara kami, penuh dengan sesuatu yang tak terucapkan.
57 jam telah berlalu.
Aku menghitungnya seperti seorang tahanan yang mencatat hari di dinding sel. Tapi kurasa, aku yang menahan diriku sendiri di dalam penjara rasa ini. Aku mencoba mengalihkan pikiran dengan segala hal, tapi bayangannya terus menghantui—seperti aroma samar hujan yang menempel di tanah, tak terlihat namun tak bisa diabaikan.
Dia bukan gadis biasa. Ada sesuatu yang berbeda, sesuatu yang tak bisa kujelaskan. Cara dia memainkan ujung rambutnya saat gelisah, atau kebiasaannya menggambar pola-pola acak di udara dengan jarinya saat dia berpikir. Bahkan benda kecil seperti liontin bintang yang selalu menggantung di lehernya, terasa seperti teka-teki yang menunggu untuk dipecahkan. Tapi aku tak pernah cukup berani bertanya.
“Mengapa kamu selalu memakai liontin itu?” tanyaku sekali waktu.
Dia tersenyum tipis, jari-jarinya menyentuh liontin itu seolah sedang melindungi rahasia. “Ini... hanya kenangan.”
Aku tak bertanya lebih jauh. Tapi setiap kali melihatnya, aku merasa seperti berdiri di tepi jurang yang gelap, dengan rasa ingin tahu yang menjeratku.
Konflik dalam diriku semakin tajam.
Aku mencintainya, tapi aku juga takut. Takut mengetahui sesuatu yang bisa menghancurkan bayangan sempurna yang kubuat tentang dirinya. Takut bahwa aku tak cukup kuat untuk menghadapi kebenaran. Apakah cintaku murni, atau hanya obsesi untuk memecahkan misteri yang dia bawa?
Malam itu, aku memimpikannya lagi. Dia berdiri di bawah langit malam, dikelilingi bintang-bintang yang begitu dekat seolah bisa dijangkau dengan tangan. Tapi ketika aku mencoba mendekat, bayangannya perlahan menghilang, menyatu dengan kegelapan. Aku terbangun dengan keringat dingin, jantungku berdebar seperti habis berlari jauh.
Pertemuan terakhir kami terjadi di taman kecil dekat rumahnya.
Aku datang tanpa harapan, hanya ingin menghabiskan satu momen lagi bersamanya sebelum aku menyerah sepenuhnya. Dia tampak sama seperti biasa—tenang, misterius, dengan senyum yang selalu menyembunyikan lebih banyak daripada yang diungkapkan.
“Ada sesuatu yang ingin aku ceritakan,” katanya tiba-tiba.
Aku menunggu, berharap, takut.
“Maaf, aku tak pernah bisa memberimu apa yang kamu inginkan. Tapi ada hal yang harus kamu tahu...” Dia berhenti sejenak, menarik napas panjang. Matanya bertemu mataku, dan untuk pertama kalinya, aku melihat sesuatu yang berbeda. Kesedihan yang dalam, seperti malam tanpa bintang.
“Aku tidak bisa mencintai siapa pun. Bukan karena aku tak mau, tapi karena aku tak bisa. Ada bagian dari diriku yang... hilang, terlalu lama. Dan aku tak tahu apakah aku bisa menemukannya lagi.”
Dia mengulurkan liontinnya ke arahku. “Ini... adalah bagian dari rahasiaku. Mungkin suatu hari, kamu akan mengerti. Tapi untuk sekarang, aku hanya ingin kamu tahu bahwa aku menghargai kamu. Lebih dari yang bisa kuungkapkan.”
Aku menggenggam liontin itu dengan tangan gemetar. Ada sesuatu di dalamnya—sebuah kunci kecil yang tampak kuno, penuh ukiran. Aku ingin bertanya, tapi sebelum kata-kata keluar, dia sudah berdiri, melangkah pergi.
Itulah terakhir kali aku melihatnya.
Penutup
Liontin itu kini ada di tanganku, seperti jejak terakhir darinya yang tak akan pernah kulupakan. Aku belum tahu apa arti kunci ini, atau apakah aku benar-benar ingin tahu. Tapi aku mulai menyadari sesuatu.
Cinta, mungkin memang tak selalu tentang memiliki. Kadang, cinta adalah tentang menerima misteri yang tak akan pernah terpecahkan.
Dan dia? Dia adalah bintang jatuh dalam hidupku—indah, tak tergapai, namun meninggalkan cahaya yang akan terus kubawa, selamanya.
---
00.17
Royhasanuddin
0 komentar:
Posting Komentar